Tren Customer Experience dalam Dunia Kesehatan

Banyak pelaku bisnis yang mulai sadar dengan pentingnya customer experience, terutama yang bermain di sektor jasa. Bagi mereka, memberikan experience positif bagi pelanggan merupakan kunci utama menghadirkan kepuasan pelanggan.

Menariknya, tidak hanya sektor bisnis yang berorientasi pada keuntungan saja, tren customer experience kini mulai merambah kepada sektor bisnis berbasis kemanusiaan, seperti layanan kesehatan. Berikut tren customer experience yang belakangan mulai diadopsi dunia kesehatan.

1. Digitalisasi Dunia Kesehatan

Demi meningkatkan jangkauan layanan, dan kemudahan pasien dalam mengakses layanan kesehatan, kini banyak dokter dan tenaga medis yang mulai membuka layanan medis secara online, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan konsultasi kesehatan.

Di sisi lain, penelitian yang dilakukan Cisco menyebut jika 70% pasien tidak keberatan dengan pemeriksaan kesehatan secara virtual, dengan catatan mereka bisa melihat langsung dokter yang memeriksanya, terutama untuk layanan pemeriksaan kesehatan yang bersifat umum.

Namun digitalisasi dalam dunia kesehatan masih hanya sebatas pemeriksaan kesehatan dan konsultasi keluhan yang bersifat umum, belum sampai kepada tahap perawatan dan diagnosis penyakit.

2. Pemanfaatan Data Kesehatan

Memiliki catatan riwayat kesehatan merupakan salah satu cara memudahkan dokter untuk melakukan diagnosa, sekaligus meningkatkan akurasi diagnosis sebuah penyakit. Dengan cara ini penanganan dan edukasi terhadap pasien bisa dilakukan dengan lebih mudah dan efektif.

Hal inilah yang belakangan ini banyak dilakukan tenaga kesehatan. Mereka dengan telaten mencatat data kesehatan pasien, untuk kemudian disimpan dalam data besar yang bisa diakses saat dibutuhkan.

Menariknya, penelitian yang dilakukan Health Research Institute, menyebut jika 88% penyedia layanan kesehatan saat ini sudah punya big data yang saling terkoneksi satu sama lain, bukan hanya terkait riwayat kesehatan, tapi juga berkaitan dengan data teknis lainnya.

3. Personalisasi Pasien

Saat ini personalisasi pasien lebih mudah dilakukan dengan adanya teknologi modern. Riwayat kesehatan, dan perawatan apa saja yang pernah dilakukan pasien, bisa terekam dengan jelas dalam data personalisasi tersebut. Ini termasuk riwayat alergi, resiko kesehatan dan lainnya.

Dr. Hossein Fakhrai-Rad, dalam tulisannya yang berjudul “Patient Data-Driven Personalization Key to Fixing Today‚Äôs Broken Health Assessments”, menjelaskan jika tenaga kesehatan perlu inovasi yang membuat interaksi mereka dengan pasien bisa dilakukan dengan cara yang lebih modern.

Menurutnya, personalisasi pasien merupakan salah satu bentuk empati tenaga medis terhadap pasien, sekaligus sebagai bentuk pelayanan maksimal yang diberikan secara maksimal.

4. Keamanan Data

Di satu sisi, terkumpulnya data pasien, personalisasi dan riwayat kesehatan, sangat memudahkan petugas medis dalam memberikan layanan yang lebih maksimal. Namun di sisi lain, big data rawan dibobol dan berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

Hal inilah yang kemudian menjadi fokus perhatian sebagian besar tenaga kesehatan dengan membentuk badan khusus yang bertugas untuk menyimpan data-data penting tersebut, sekaligus melindunginya dari ancaman pembobolan.

Namun sayang, inovasi ini baru berjalan di beberapa rumah sakit di Amerika. Belum jelas apakah sistem yang sama digunakan juga di Indonesia, atau negara lainnya.

5. Teknologi Pintar

Bukan hanya perusahaan teknologi, dan manufaktur saja, belakangan ini dunia medis mulai melirik asisten virtual sebagai salah satu cara memberikan pengalaman positif kepada pasien. Salah satu contohnya adalah tempat tidur pintar.

Teknologi tersebut dilengkapi dengan sensor khusus yang memungkinkan pasien bisa mendapatkan kenyamanan tidur yang lebih maksimal. Selain itu ada juga teknologi pompa infus otomatis yang bisa dikendalikan dari jarak jauh, dan beberapa teknologi pintar lainnya.

Bahkan saat ini beberapa rumah sakit mulai menyiapkan teknologi robot yang bertugas membantu meringankan tugas dokter dalam merawat dan memantau kondisi kesehatan pasien.

Sumber rujukan: CXsense Indonesia